Berhala Baru dalam Bingkai Demokrasi (Tinjauan Kontekstual atas Teks "Berhala Baru" dalam "Sabda Zarathustra")

 

Oleh: Arief Tandang

Pendahuluan

            Sejak berdirinya, bangsa Indonesia sudah mengalami dan melewati dinamika-dinamika rekonstruktif dalam sejumlah dimensi, termasuk di dalamnya dimensi sosio-kultural; di sana terkandung ikhtiar menemukan sesuatu yang dinilai mampu melandasi kebinekaan. Landasan itu kemudian terus-menerus ditambal dan diperkaya agar mencapai suatu kebaikan yang bisa diterima secara bersama. Kebinekaan sebagaimana diakui sebagai kondisi historis bangsa Indonesia menuntut agar ditata sedemikian rupa, sehingga mampu menciptakan suatu tatanan publik yang kondusif. Sejarah mencatat bahwa penghuni bangsa ini terdiri atas pelbagai latar belakang budaya, ras, suku, dan agama yang tersebar secara sporadis di pelosok-pelosok tanah air. Hal ini mengindikasikan suatu kekayaan yang menempatkan bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa khas dan dengannya berbeda dari bangsa-bangsa lain di dunia.

            Seiring dengan kondisi pluralistis yang patut kita banggakan sebagai sebuah bangsa yang kaya akan perbedaan, tentu bangsa kita tidak terhindar dari gejala-gejala yang justru seringkali menegasi kenyataan pluralistis ini. Gejala-gejala itu muncul entah dari ‘atas’: para penguasa negara, maupun dari bawah: masyarakat akar rumput. Gejala-gejala ini kemudian meruntuhkan perlahan kondusivitas tatanan negara demokratis.

  Satu kenyataan yang sedang (dan sesungguhnya telah lama dimulai) menyelimuti bangsa kita saat ini ialah gejala ‘peneguhan kekuasaan’ melalui upaya yang hemat saya semacam politisasi agitatif. Penguasa mempolitisasi rakyat kecil dengan cara menghasut demi melanggengkan kekuasaannya. Gejala ini sepintas menempatkan penguasa – terutama para politisi, birokrat – pada posisi yang tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun –apalagi rakyat kecil. Dan untuk meneguhkan posisi ini dilanggengkanlah upaya-upaya agitatif di mana rakyat dihasut dan bahkan dipermainkan demi kepentingan politis semata. Rakyat sama sekali tidak diuntungkan. Justru dengan berjubelnya tawaran-tawaran persuasif, rakyat semakin terperosok dan penguasa semakin diperkaya. Yang disayangkan, justru rakyat seringkali merasa betah dengan perlakuan yang kerap kali tidak mereka sadari. Rakyat diiming-iming harta agar habitus ‘penyembahan’ kepada penguasa terus dibuat; suatu sistem peneguhan kekuasaan. Pada hemat saya, kondisi ini ialah bentuk berhala baru zaman ini terutama di Indonesia.

Saya mencoba menelaah teks Nietzsche tentang Sabda Zarathustra  yang secara khusus menyentil soal ‘berhala’ dalam tubuh bangsa pada masanya. Dengan gaya bahasa metaforis dan analogis, Nietzsche dalam teks Berhala Baru-nya mengkritik situasi politik bangsanya (yang di dalamnya terdiri dari penguasa dan rakyat) dengan sinisme. Rupanya kritik Nietsche ini masih relevan dengan konteks bangsa Indonesia yang juga sedang dilanda virus ‘berhala’ sebagaimana dimaksudkan Nietzsche dalam teksnya yang akan diperjelas pada bahasan selanjutnya.

Nietzsche dan Berhala Baru pada Masanya

            Hampir dalam setiap karyanya, Nietzsche mengulas dengan menggunakan bahasa-bahasa kiasan, puitis dan metaforis. Saking puitis dan metaforis seringkali tulisan-tulisannya gagal dipahami pembaca. Akan tetapi, sesungguhnya manakala dibaca secara teliti dan penuh perhatian serta pula dengan emosi, maka bukan tidak mungkin kita akan mendapatkan tulisan-tulisannya yang bermakna amat mendalam. Saya menemukan beberapa karyanya dalam Sabda Zarathustra yang secara spesifik mengungkit dan menguak sejumlah kejanggalan penguasa pada zamannya. Secara tersurat Nietzsche mengkritik situasi-situasi politik yang dianggapnya abnormal dan patut diprasangka. Nietzsche ialah sosok kritikus kontroversial. Ia pulalah yang menggegerkan dunia dengan mewartakan kematian Tuhan.

            Sesungguhnya Nietzsche dengan dominasi bahasa metaforis, puitis namun kritis, menyadarkan kita akan gejala-gejala destruktif dalam sebuah tubuh negara yang barangkali tidak dirasakan oleh kebanyakan orang pada zamannya. Alhasil, tulisan-tulisan kritisnya pun masih amat relevan dengan situasi dunia hari  ini.

Pada bahasan sederhana ini secara eksplisit saya akan mengulas relevansi karya Nietzsche yang secara khusus membahas soal kejanggalan-kejanggalan negara (penguasa) di mana rakyat turut dilibatkan dan bahkan dijadikan korban yang kerap kali tidak mereka sadari. Saya menamakan situasi ini sebagai Berhala Baru dalam tubuh negara Indonesia sebagaimana digambarkan Nietzsche sendiri.

Mengapa Nietzsche menggunakan istilah Berhala Baru dalam perumpamaannya? Pantaskah istilah ini dipakai dengan melihat kembali situasi pada zamannya? Ketika pertanyaan ini terjawab sudah sepatutnya kemudian kita mengkontekstualisasi ide-idenya yang relevan dengan negara kita sekarang ini. Dalam teks berhala baru, Nietzsche mengklaim keangkuhan penguasa sebagai cikal bakal runtuhnya peradaban suatu negara. Berhala, adalah suatu bentuk ‘penyembahan’; penghormatan yang lebih dari biasanya; suatu idolatria, di mana rakyat ditempatkan sebagai subjek pelaku ‘penyembahan’ kepada sesuatu atau seserorang yang lebih tinggi pengaruhnya atau golongan yang berkapasitas mengatur kebijakan tertentu dalam sebuah negara. Rakyat sebenarnya juga berada pada dua posisi. Pertama sebagai objek – korban – atau alat penguasa dan kedua sebagai subjek, pelaku ‘penyembahan’. Interpretasi yang saya ajukan boleh jadi agak berlebihan. Akan tetapi, hemat saya ini adalah upaya penelusuran sebuah teks di mana kesanggupan menelisik ditantang agar mencapai pemahaman subjektif yang berterima.

Berhala dalam Sabda Zarathustra melukiskan keadaan rakyat pada zamannya. Rakyat senantiasa dijadikan penguasa sebagai alat yang begitu mudahnya diatur, dikelabui demi hasrat kekuasaan. Nietzsche menulis: ”Negara, demikian nama monster yang paling dingin dari yang terdingin. Dengan dingin pula ia berdusta; dan dusta ini merayap keluar dari mulutnya: “Aku, negara, adalah suku.”[1]  Dari mulutnya negara (penguasa) berbohong untuk mengelabui rakyat, dan karena dilakukan secara rapi dan cerdik, alhasil rakyat gagal mengerti dan karenanya kemudian diperdayai dan diperalat semena-mena. Nietzsche menilai rakyat tidak responsif dengan situasi yang melanda kehidupan mereka sendiri. Justru rakyat merasa aman dengan aksi penguasa yang secara licik, persuasif namun ekstrem memperalat rakyat demi ‘peneguhan kekuasaan’ semata. Rakyat seolah-olah tidak memiliki kesanggupan untuk menentang sikap penguasa. Yang ada hanyalah sikap menerima karena diiming-iming harta dan sebagainya. Ketika kemudian penguasa berhasil bernegosiasi atau lebih tepatnya ditawar-tawari, rakyat beralih menjadi pem-berhala yang mengagung-agungkan penguasa yang telah memberinya harta.

Menegaskan animo kekuasaan para penguasa, Nietsche menulis: “Mereka semua berlomba merengkuh singgasana: itulah kegilaan mereka – seolah sang kebahagiaan duduk di atas singgasana! Yang seringkali duduk di atas singgasana adalah kotoran – dan seringkali pula tahta duduk di atas kotoran.”[2] Kita bisa menemukan makna terdalam dari bahasa sentimental di mana penguasa ditempatkan pada situasi yang penuh ‘kekacauan’ – berlomba-lomba mendapat tempat terhormat dengan ‘menumpas’ siapa pun lawan sebagai pesaing; “Mereka memanjat dan menginjak-injak satu sama lain, dan bertengkar sampai ke dalam lumpur kotor dan jurang tak berdasar.”[3] Nietzsche tentu menggambarkan sebuah keadaan yang diamatinya karena ia pun terlibat dan mengalami peristiwa di negaranya. Bagi Nietzsche ‘kekacauan’ pada level penguasa ini tak bedanya dengan kera-kera yang lincah melompat merengkuh kekuasaan, yang bermental banal, menginjak dan memusnahkan satu sama lain yang dirasa sebagai pesaing. Animo kekuasaan yang sudah menjadi habitus penguasa dalam menjalankan pemerintahan ini justru menempatkan rakyat pada level terendah yang hanya bisa meladeni birahi penguasa yang memang sudah menjelma menjadi kera-kera banal.

Lantas, ditilik dari sisi manakah jika dikatakan bahwa rakyat menjadi subjek pelaku ‘penyembahan berhala’? Realitas apa yang paling menonjol ditunjukkan negara (penguasa) yang menciptakan ikon (sasaran) berhala di mana kemudian menempatkan rakyat pada posisi sebagai penyembah? Dalam hubungannya dengan hal ini, Nietzsche menulis: “Semuanya akan ia berikan kepadamu jika kalian menyembahnya, dia sang berhala baru: dengan demikian ia telah membeli terang dari kebajikanmu dan pandangan dari matamu yang bangga.”  Jadi, kita bisa melihat realitas yang ditunjukkan penguasa yang dengan sendirinya menempatkan rakyat pada posisi sebagai penyembah. Nietzsche memang menempatkan rakyat dalam tulisannya sebagai korban dari aksi agitatif nan destruktif penguasa. Penguasa berada pada posisi yang diuntungkan kalau hati rakyat berhasil dimenangkan. Dengan berlimpah tawaran, rakyat kemudian menjadi hamba yang siap meladeni hasrat penguasa termasuk mengajak orang (rakyat) lain menyembah penguasa yang sama dengan imbalan serupa. Jadi, berhala ini kemudian akan menyebar dari satu orang ke orang lain, karena diiming-iming harta dari penguasa yang sama.

Nietzsche sebetulnya tidak hanya ingin menggambarkan situasi politik yang tercipta dalam pada masanya. Pada seruan akhir tulisan Berhala Baru­-nya ia justru mengajak rakyat (manusia sebagai korban)  untuk menyadari situasi yang diciptakan negara dan menawarkan anjuran-anjuran solutif. Nietzsche menulis sebagai berikut:

 

“Wahai saudaraku, apakah kalian mau sesak nafas di dalam mulut dan nafsu makan mereka! Lebih baik memecah jendela dan melompat bebas! Singkirkan semua bau busuk ini! Menyingkirlah dari penyembahan terhadap berhala kelebihan! Singkirkan semua bau busuk ini! Menyingkirlah dari uap pengorbanan manusia ini! Bumi masih terbuka bebas untuk jiwa-jiwa besar. Masih banyak tempat kosong untuk mereka yang sendiri atau berdua, di mana masih bertiup hawa dari lautan yang tenang.”[4]

 

Jadi, Nietzsche bukan hanya mengkritik, tetapi juga mencari dan memberi solusi. Ia reaktif terhadap kenyataan politis sekaligus proaktif, berani mengusulkan ide kepada rakyat yang tidak diuntungkan. Hemat saya, tawaran Nietzsche sangat strategis untuk melangsungkan kehidupan damai. Akan tetapi, dengan memutuskan untuk “memecah jendela dan melompat bebas” tentu akan berkonfrontasi dengan negara sebagai sistem legitim yang kelihatan ekstrem.  Rakyat harus berhadapan dengan tantangan, dikucilkan atau bahkan dimusnahkan karena dianggap (oleh pemerintah) terlalu berani untuk menempati “tempat kosong” di mana pemerintah tidak lagi mengusik.   

            Situasi dilematis ini tidak serta merta membuat rakyat batal mengambil keputusan. Nietzsche justru mendorong rakyat untuk berani mengambil resiko demi terhindar dari “sesak nafas di dalam mulut dan nafsu makan penguasa (pemerintah) dan memulai kehidupan dalam suatu tempat kosong […] di mana masih bertiup hawa dari lautan yang tenang”.

Aktualitas Teks Berhala Baru dalam Konteks Demokrasi di Indonesia

Negara Indonesia adalah negara pemerintahan berbentuk republik-demokatis. Secara yuridis, Indonesia adalah negara yang ketat hukum. Di setiap lini kehidupan yang berorientasi pada keberlangsungan kehidupan negara selalu ada hukum yang ketat dan mengikat. Keadaan ini selanjutnya mengarahkan (memaksa) rakyatnya untuk patuh pada hukum dan menindak tegas bagi siapa pun yang melanggar. Tentu hal ini sangat dianjurkan dalam sebuah negara demi keberlangsungannya.

Suatu fenomena baru – atau lebih tepatnya fenomena lama yang baru disadari – di mana penguasa dalam negara Indonesia yang demokratis seringkali memperalat rakyatnya demi melanggengkan kekuasaan. Rakyat dibuat bisu dengan tawaran-tawaran materi yang menggiurkan. Lantas, rakyat serentak ‘dipaksa menyembah’ sang penguasa. Rakyat yang mendapat asupan materi (harta) dari sang penguasa sesungguhnya pula memiliki beban moral yang kemudian mendesaknya membalas ‘kebaikan’ sang penguasa. Keadaan ‘dipaksa’ dan ‘beban moral’ ini lantas menciptakan suatu fenomena baru yakni ‘penyembahan berhala’.

Persis seperti situasi politik sebagaimana digambarkan Nietzsche pada masanya, Indonesia kini diguncang oleh situasi yang sama. Memang tidak ada penelitian serius mengenai perilku ‘berhala’ yang hidup di tengah masyarakat akar rumput. Namun, tanpa penelitian pun kita bisa berprasangka bahkan mesti berani membangun dialektika asumtif terhadap kenyataan yang kita saksikan.

Biasanya para penguasa beraksi pada momen-momen seperti pesta rakyat – pemilihan  umum/pemilihan kepala daerah – yang dicangkangi ide demokrasi. Demokrasi seolah-olah menjadi mantel penyelubung aksi pelanggengan kekuasaan dengan menempatkan rakyat sebagai alat penguasa. Saya menaruh curiga, rakyat pada banyak wilayah di negara kita eksis memuja penguasa dalam situasi-situasi menjelang pemilihan umum.

Aksi ‘penyembahan berhala’ pertama-tama muncul karena ada desakan dari penguasa yang memerintah yang menghendaki dirinya terpilih kembali dalam pemilihan umum oleh rakyat. Dengan bermodalkan finansial, penguasa biasanya selalu berhasil membujuk rakyat. Dengan tawaran yang memang menggiurkan rakyat dengan mudah menerima apalagi boleh jadi pada saat itu krisis finansial merundungnya. Pada tataran lain para penguasa menghasut rakyat untuk memosisikan para pesaingnya sebagai pihak yang tidak lebih baik dari dirinya. Dengan begitu ia mendapat perhatian lebih dari rakyat. Benar kata Nietzsche, para penguasa akan menggunakan berbagai cara termasuk memakai kata-kata bombastis untuk menarik hati rakyat. Lebih dari itu mereka juga akan mengagung-agungkan diri dan karya yang telah mereka buat sekalipun tidak jarang sekadar untuk pencitraan.

Ketika penguasa hendak mengujungi kampung-kampung untuk bersabda tentang dirinya, rakyat yang telah dibuat bungkam oleh asupan finansial, menyibukkan diri menyiapkan segala hal yang kalau dibaca semata-mata sebagai tanda penerimaan dan lebih dari itu sebagai ‘balasan’ atas ‘kebaikan’ penguasa. Panitia-panitia pun terbentuk mulai dari dapur hingga ruang tamu untuk menyambut sang penguasa layaknya menerima raja yang mesti disembah. Rakyat telah dibuat lupa akan pekerjaan harian demi melayani sang penguasa yang datang – walaupun hanya lima tahun sekali – menyapa  kehidupan rakyat. Sesungguhnya rakyat telah jatuh dalam berhala seperti dikatakan Nietzsche. Inilah bentuk berhala baru zaman kita yang memang tidak banyak orang menyadarinya.

Indonesia sebagai negara demokratis telah dinodai oleh segelintir orang yang demi kekuasaan, tega memperalat rakyat. Rakyat yang menjadi subjek demokrasi justru diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang. Hal ini nyata dalam dalam kata-kata bombastis penguasa yang tidak pernah terealisasi dalam masa kepemimpinannya.

Mungkinkah rakyat sebaiknya keluar dari cengkeraman ini dan mencari “tempat-tempat kosong” sebagaimana dianjurkan Nietzsche? Apakah rakyat mesti memutuskan untuk “memecah jendela dan melompat bebas” agar terhindar dari kungkungan berhala? Hemat saya, sebagaimana Nietzsche, anjuran ini perlu dilakukan. Rakyat mesti keluar sebagai manusia bebas yang tidak terikat dengan penguasa apalagi sampai menyembahnya. Selain karena alasan penodaan terhadap ruh demokrasi, adapun rakyat sesungguhnya telah direndahkan harga diri dan martabatnya sebagai manusia bebas. Nietzsche menganjurkan hal ini karena ia yakin suatu negara tidak akan maju kalau hanya dipenuhi penyelewengan-penyelewengan yang dimanteli ide demokrasi.

Penutup

            Sebagai bagian dari rakyat bangsa Indonesia kita mesti menyadari kondisi ini. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa kejanggalan-kejanggalan akan terjadi sebagai negasi dalam tubuh negara demokratis sekalipun. Namun, yang perlu kita lakukan adalah meminimalisasi negasi-negasi itu untuk terciptanya suatu bangsa yang adil dan berperikemanusiaan. Ideologi bangsa telah mengantar kita pada pemahaman sekaligus pendalaman akan konsep keadilan dan perikemanusiaan khususnya, bahwa semua orang sama entah sebagai penguasa atau rakyat. Perlakuan hukum tidak boleh berat sebelah.

            Nietzsche telah menguak kejanggalan dalam tubuh negara pada masanya. Kita pun mesti menguak kejanggalan-kejanggalan dalam tubuh negara kita sekalipun dibaluti selimut demokrasi. Tugas kita, sebagaimana Nietzsche, memperjuangkan keadilan yang bermartabat yang terbebas dari stratifikasi dalam perlakuan hukum. Kita mesti berjuang membela rakyat sembari mengingatkan agar segala bentuk berhala tidak lagi terjadi.



[1] Friedrich Nietzsche, Sabda Zarathustra penerj. Sudarmaji dan Ahmad Santoso (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hlm. 102.

[2] Ibid., hlm. 105.

[3] Ibid.

[4] Ibid., hlm. 106.

Comments

Popular Posts