Natal: Melampaui yang Lazim (Menggali Nuansa Lahiriah Mencapai Spirit Batiniah)
![]() |
| Gambar/viva.com oleh: Arief Tandang |
Setidaknya judul di atas memicu timbulnya pertanyaan yang tidak lain mengarah pada pencarian maksud (tujuan) dasariah yang mau diungkapkan. Pertanyaan seperti apa itu yang lazim, bagaimana melampaui yang lazim itu, memulai serentak mendalami maksud pencarian yang hendak disampaikan.
Pertama-tama mesti ditelusuri apa yang lazim. Yang lazim berarti juga yang biasa, yang lumrah, yang terus-menerus (dibuat). Menelusuri yang lazim mengandaikan ada pula yang tidak lazim. Yang tidak lazim secara sederhana adalah "negasi" dari yang lazim, yang biasa, atau yang lumrah.
Natal dengan segala nuansa yang umumnya nampak sebelum (dan selama) perayaan itu dirayakan memproduksi kesan-kesan yang relatif sama dari tahun ke tahun. Ia melahirkan kesan-kesan yang kurang lebih bersinggungan dengan pernak-pernik material yang barangkali diakui menjadi pemicu gairah merayakan natal.
Boleh jadi asumsi saya berlebihan. Tetapi, bertolak dari realitas tanpa menggeneralisasi seluruh konteks, saya justru tertarik menggali apa yang pernah dan bahkan sering saya alami dalam beberapa konteks umat. Dari situlah yang lazim dan yang tidak lazim dapat dijelaskan.
Paling tidak kita sepakat, nuansa natal ditandai dengan pernak-pernik seperti lampu natal, pohon natal, pakaian natal (mode), lagu-lagu natal, kue natal, dan materi-materi yang bertebaran di pinggir jalan, di emperan-emperan, di rumah-rumah, dan lain sebagainya. Itu yang secara lahiriah nampak di sekitar kita. Pertanyaan umum kemudian yang memang acapkali menghiasi nuansa natal setiap tahunnya adalah soal pemaknaan natal dari materi-materi yang nampak itu.
Perihal yang lahiriah, itulah yang diakui sebagai yang lazim. Lazim, karena memang amat biasa, ditradisikan dari zaman ke zaman, yang seolah-olah tanpa materi lahiriah itu natal tak ada ‘marwah’-nya.
Bagi saya, adanya pernak-pernik, materi lahiriah cukup berandil dalam menggugah spirit batiniah setiap orang yang merayakannya (orang-orang Kristen). Dengan adanya nuansa lahiriah yang nampak oleh pandangan mata serentak mendorong dan mengantar orang-orang Kristen pada situasi batin yang kurang lebih serupa dengan gambaran lahiriah itu. Kalau yang lahiriah – yang lazim – identik dengan terang, cahaya, warna-warna yang hidup nuansa batin juga (semestinya) menjadi terang, bersinar, dan hidup.
Saya sendiri merasa yakin (tanpa berniat meyakinkan orang) yang lahiriah justru mengantar seseorang pada situasi batin sebagaimana yang lahiriah menggambarkannya. Nuansa lahiriah akan dengan sendirinya membentuk situasi batin. Kegairahan materi yang kita sematkan dalam seluruh nuansa natal serentak juga (sanggup) menggairahkan batin.
Melampaui yang lazim berarti melampaui yang lahiriah. Bukan dengan melenyapkannya, tetapi membuatnya tetap ada, mengangkatnya pada level yang lebih tinggi, serentak menjadikannya medium melangkah menuju pengalaman batin yang insaf akan makna.
Kiranya yang lahiriah mendorong semangat untuk melampaui "sukacita buta" menuju sukacita batin yang sungguh-sungguh. Jadikanlah pernak-pernak materi menjadi tanda bahwa kita sedang berbahagia oleh karena kelahiran Kristus yang menjiwai bukan hanya raga tetapi terlebih hati kita.*

Comments
Post a Comment